Teman Nonton

Teman Nonton #005 : Folklore A Mother’s Love

“Jangan main magrib-magrib nanti diculik wewe gombel.”  Sebuah pernyataan yang mungkin sering kali kita dengar, saat kita masih kecil. Entah benar atau tidaknya hal itu. Wewe gombel memang telah menjadi sosok yang melekat di masyakarat kita. Sosok inilah yang kemudian coba diangkat oleh Joko Anwar lewat serial terbarunya yang berjudul Folklore A Mother’s Love.

Folklore A Mother’s Love adalah sebuah serial yang tayang secara eksklusif lewat jaringan HBO.  Lebih tepatnya HBO GO Asia.

Sejak beberapa hari ini serial tersebut mendapatkan banyak komentar positif di twitter. Tidak heran sebenarnya, mengingat beberapa saat yang lalu Joko Anwar sempat mendapatkan sambutan baik lewat filmnya Pengabdi Setan.

Tapi, seberapa menarikkah serial ini ? pantaskah kita menghabiskan waktu 48 menit untuk menontonnya ? Bersama Ono di sini. Inilah dia Teman Nonton #005 : Folklore A Mother’s Love.

Sinopsis

Folklore A Mother’s Love bercerita tentang seorang ibu bernama Murni (Marissa Anita) dan anaknya Jody (Muzakki Ramdhan). Diceritakan bahwa Murni dan Jody hidup dalam kemiskinan. Mereka sering kali berpindah-pindah kontrakkan karena tidak sanggup membayar.

Hingga akhirnya suatu hari Murni dan Jody harus menginap di rumah tak berpenghuni tempatnya bekerja. Di rumah inilah kemudian keduanya menemukan hal-hal aneh. Keanehan tersebut terus mengikutinya bahkan setelah mereka keluar dari rumah tersebut.

Bukan Sekedar Hantu-hantuan

Sepanjang saya menonton serial ini, saya mencatat setidaknya hanya ada 2-3 kali sosok hantu muncul. Sisanya, lebih banyak percakapan antara Murni dan Jody. Tapi, karena hal itulah suasana mencekam malah terbangun dengan baik. Kita seakan diajak untuk menebak arah ceritanya lalu kemudian dibuat kaget saat proses berpikir tersebut.

Hubungan antara ibu dan anak yang coba disajikan juga terasa penuh emosi. Lewat percakapannya dengan Jody, kita dapat melihat sosok Murni yang penyayang. Tapi, disaat yang bersaman kita dapat melihatnya begitu rapuh dan lelah.

Melihat itu, saya jadi merasa ini adalah cerita ibu dan anak yang ada hantunya. Bukan cerita hantu yang ada ibu dan anaknya.

Kesimpulan

Folklore A Mother’s Love bisa jadi adalah bukti bahwa serial horor tak harus teriak-teriakan. Tak harus hantu disana-sini. Tak harus dibuat kaget berkali-kali sampai bosan.

Diluar banyaknya komentar positif dari serial ini. Harus saya akui bahwa Folklore A Mother’s Love adalah serial horor yang dapat saya nikmati keseramannya. Bahkan, sampai terbawa ke mimpi. Disaat yang bersamaan serial ini juga terasa menyentuh, tapi tidak sampai membuat saya menangis.

Kalau ditanya apa kurangnya ? agak sulit rasanya kalau harus dijawab. Dua hal yang mungkin adalah pertama saya bingung dengan sosok Jody. Kedua, harus langganan First Media untuk lihat episode lanjutannya.

Harus banget nih First Media ? engga bisa yang lain gitu ?

Saya Mas Wahono, pamit.

Salam, Juru Review.

Leave a Reply

Theme by Anders Norén